Kembali
Gereja Katolik Prioritaskan Perdamaian Dunia di Tengah Konflik Timur Tengah
Waktu Terbit 06 April 2026
Penulis Jihan Nenci Meilinda

Uskup Keuskupan Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo, menegaskan bahwa Gereja Katolik menempatkan perdamaian dunia sebagai prioritas utama, terutama di tengah perang yang terus berkecamuk di Timur Tengah. Sikap ini, menurut beliau, sejalan dengan arah kepemimpinan Paus Leo XIV, yang sejak awal pontifikatnya konsisten menyerukan penghentian kekerasan bersenjata dan membangun rekonsiliasi global.

Dalam kesempatan wawancara setelah memimpin Misa Pontifikal Paskah di Katedral Jakarta pada 5 April 2026, Kardinal Suharyo mengingat kembali momen ketika Paus Leo XIV pertama kali tampil di Basilika Santo Petrus dan menyampaikan salam perdamaian bagi seluruh dunia. “Itu artinya beliau sungguh-sungguh ingin menyatakan bahwa masa kepemimpinannya akan diisi dengan upaya mengusahakan perdamaian,” ujarnya.

Kardinal mengajak seluruh umat Katolik untuk terus berdoa tanpa henti agar perang segera berakhir, mengingat dampak perang tidak hanya menghancurkan bumi, tetapi juga menimbulkan penderitaan besar bagi umat manusia. Ia menegaskan bahwa konflik yang terjadi saat ini adalah pelanggaran terhadap hukum internasional dan konsekuensinya “sangat buruk bagi dunia, bagi bumi, dan bagi kemanusiaan.”

Meski situasi tampak gelap, Kardinal Suharyo percaya bahwa selalu ada secercah harapan. Ia menggambarkan harapan itu sebagai “lilin kecil yang menerangi kemanusiaan,” terutama ketika para pemimpin dunia tampaknya dikuasai oleh kegelapan dan kepentingan diri. Menurutnya, akar dari konflik ini adalah keserakahan, diperparah oleh ketersediaan senjata mematikan dan merosotnya kesadaran moral manusia.

Selain menyoroti perang, Kardinal Suharyo juga mengangkat isu keutuhan ciptaan, yang menjadi tema Paskah Keuskupan Agung Jakarta tahun ini. Ia menekankan bahwa persoalan ekologis, termasuk kerusakan lingkungan di Indonesia, memerlukan tindakan nyata dari umat beriman. Gereja, tegasnya, berkomitmen untuk tidak menanam saham di perusahaan yang terbukti merusak lingkungan hidup.

Menutup pesannya, Kardinal Suharyo mengajak umat untuk tetap berpegang pada iman, harapan, dan kasih meski keadaan dunia tidak sedang baik-baik saja. “Kita harus tetap berjuang untuk teguh di dalam iman, kokoh dalam harapan, dan tetap menyala di dalam kasih,” pungkasnya.

 

Sumber: UCAN Indonesia. (2026, 6 April). Kardinal Suharyo: Gereja Katolik menempatkan perdamaian dunia sebagai prioritas utama di tengah perang. UCANews Indonesia.

Link: https://indonesia.ucanews.com/2026/04/06/kardinal-suharyo-gereja-katolik-menempatkan-perdamaian-dunia-sebagai-prioritas-utama-di-tengah-perang/

Mungkin Anda Tertarik
Pesan Hari Doa Panggilan Sedunia 2026: Menemukan Anugerah Allah di Kedalaman Hati
Artikel ini merangkum pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2026, yang menekankan bahwa panggilan adalah anugerah Allah yang ditemukan dalam keheningan dan relasi pribadi dengan Kristus. Paus mengajak umat, terutama kaum muda, untuk membuka diri lewat doa, Kitab Suci, dan kehidupan sakramental, serta meneladani Santo Yosef dalam mempercayakan diri pada Allah.
UNICEF Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah karena Anak-Anak Menanggung Dampak Terburuk
Artikel ini menyoroti seruan mendesak UNICEF untuk menghentikan perang di Timur Tengah yang menyebabkan penderitaan besar bagi lebih dari 1,2 juta anak yang mengungsi di Iran dan Lebanon. UNICEF memperingatkan bahwa ribuan anak telah menjadi korban tewas atau terluka, sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengeboman tanpa henti. Ted Chaiban, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, menegaskan bahwa anak-anak kini menanggung beban krisis paling berat, dengan rumah, sekolah, dan fasilitas penting hancur serta kebutuhan kemanusiaan yang jauh melampaui bantuan yang tersedia. UNICEF meminta gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan dukungan pendanaan mendesak agar generasi anak yang terdampak tidak kehilangan masa depan.
Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Damai, Bukan Perang dan Kehancuran
Dalam audiensi bersama ITA Airways dan Lufthansa Group, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas layanan profesional mereka dalam mendukung perjalanan apostolik Paus, sekaligus menegaskan bahwa pesawat seharusnya menjadi sarana perdamaian, bukan alat penghancur di medan perang. Paus menyoroti ironi bahwa teknologi penerbangan, yang seharusnya memajukan kemanusiaan, masih sering digunakan untuk serangan udara yang membawa ketakutan dan kehancuran. Ia menegaskan bahwa rute perjalanan Paus selalu dimaksudkan sebagai jembatan dialog dan persaudaraan, serta mengajak dunia untuk membangun “rute-rute damai di langit.”