Kembali
UNICEF Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah karena Anak-Anak Menanggung Dampak Terburuk
Waktu Terbit 25 Maret 2026
Penulis Jihan Nenci Meilinda

UNICEF menyerukan penghentian segera kekerasan di Timur Tengah serta akses kemanusiaan tanpa hambatan untuk membantu lebih dari 1,2 juta anak yang terpaksa mengungsi di Iran dan Lebanon. UNICEF memperingatkan bahwa satu generasi anak sedang terseret semakin dalam ke dalam krisis dan membayar harga yang “sangat menghancurkan.”

Dalam sebuah pengarahan di Markas Besar PBB di New York pada hari Senin, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Ted Chaiban, menggambarkan kondisi yang mengerikan dimana lebih dari 2.100 anak telah tewas atau terluka sejak perang meletus tiga minggu lalu, termasuk 206 anak di Iran dan 118 anak di Lebanon. Ia menegaskan bahwa angka-angka tersebut mewakili tragedi yang lebih luas bagi keluarga dan komunitas.

“Di balik angka-angka ini ada orang tua, kakek-nenek, guru, saudara laki-laki dan perempuan,” kata Chaiban. “Komunitas, kota, dan bangsa berada dalam kondisi syok.”

 

Jutaan Orang Mengungsi akibat Serangan Tanpa Henti

Konflik yang semakin intens menyebabkan jutaan warga sipil melarikan diri dari kawasan yang dibombardir. Badan Pengungsi PBB (UNHCR) memperkirakan hingga 3,2 juta orang telah mengungsi di Iran, termasuk sekitar 864.000 anak. Di Lebanon, lebih dari satu juta penduduk mengungsi, termasuk 370.000 anak.

Pertempuran juga mendorong pengungsi Suriah pulang ke negaranya: sekitar 90.000 orang telah kembali ke Suriah sejak awal konflik, diikuti ribuan warga Lebanon yang terpaksa pindah.

Chaiban memperingatkan bahwa sebelum eskalasi saat ini, 44,8 juta anak di Timur Tengah sudah hidup dalam situasi konflik. Kondisi yang semakin memburuk ini akan meninggalkan dampak jangka panjang bagi seluruh generasi.

 

Kebutuhan Darurat Meningkat, Sementara Dana Tidak Cukup

Rumah, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas vital yang dibutuhkan anak-anak kini banyak yang rusak atau hancur. Meskipun bantuan kemanusiaan terus diberikan, mulai dari makanan, air, obat-obatan, hingga perawatan Kesehatan, kebutuhan di lapangan jauh melampaui sumber daya yang tersedia.

UNICEF mencatat adanya kesenjangan pendanaan sebesar 86% dalam penggalangan dana darurat, yang menghambat kemampuan untuk menjangkau anak-anak yang paling rentan.

 

Seruan Mendesak: Gencatan Senjata dan Akses Kemanusiaan

Atas nama anak-anak yang paling terdampak, Ted Chaiban menyerukan gencatan senjata segera dan perlindungan bagi warga sipil, akses kemanusiaan yang aman dan tanpa hambatan dan dukungan pendanaan mendesak untuk mencegah krisis yang semakin parah

UNICEF yang berdiri sejak 1946 dan beroperasi di lebih dari 190 negara, menegaskan kembali komitmennya untuk menyediakan bantuan kemanusiaan dan pembangunan bagi anak-anak dan keluarga mereka yang sedang menghadapi krisis.

 

Sumber: Vatican News. (2026, March 24). UNICEF appeals for end to Mideast war as children suffer devastation.

Link: https://www.vaticannews.va/en/world/news/2026-03/unicef-appeals-end-mideast-war-as-children-suffer-devastation.html

Mungkin Anda Tertarik
Pesan Hari Doa Panggilan Sedunia 2026: Menemukan Anugerah Allah di Kedalaman Hati
Artikel ini merangkum pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2026, yang menekankan bahwa panggilan adalah anugerah Allah yang ditemukan dalam keheningan dan relasi pribadi dengan Kristus. Paus mengajak umat, terutama kaum muda, untuk membuka diri lewat doa, Kitab Suci, dan kehidupan sakramental, serta meneladani Santo Yosef dalam mempercayakan diri pada Allah.
Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Damai, Bukan Perang dan Kehancuran
Dalam audiensi bersama ITA Airways dan Lufthansa Group, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas layanan profesional mereka dalam mendukung perjalanan apostolik Paus, sekaligus menegaskan bahwa pesawat seharusnya menjadi sarana perdamaian, bukan alat penghancur di medan perang. Paus menyoroti ironi bahwa teknologi penerbangan, yang seharusnya memajukan kemanusiaan, masih sering digunakan untuk serangan udara yang membawa ketakutan dan kehancuran. Ia menegaskan bahwa rute perjalanan Paus selalu dimaksudkan sebagai jembatan dialog dan persaudaraan, serta mengajak dunia untuk membangun “rute-rute damai di langit.”
Tahta Suci di PBB: Kebebasan Beragama Bukan Pilihan, Melainkan Hak Mendasar
Artikel ini membahas pernyataan Tahta Suci di PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) yang menegaskan bahwa kebebasan beragama adalah hak fundamental yang tidak dapat ditawar. Dalam konteks meningkatnya Islamofobia dan diskriminasi berbasis agama, ditegaskan bahwa pelanggaran terhadap kebebasan ini dapat merusak tatanan sosial, menumbuhkan ketakutan, dan memicu kekerasan. Mengacu pada ajaran Paus Leo XIV, artikel ini juga menekankan pentingnya dialog antaragama, pendidikan, dan literasi digital sebagai upaya membangun masyarakat yang damai, adil, dan saling menghargai dalam keberagaman.