Kembali
Tahta Suci di PBB: Kebebasan Beragama Bukan Pilihan, Melainkan Hak Mendasar
Waktu Terbit 18 Maret 2026
Penulis Jihan Nenci Meilinda

Tahta Suci menegaskan bahwa kebebasan beragama atau berkeyakinan merupakan hak fundamental yang tidak dapat ditawar. Pernyataan ini disampaikan oleh perwakilan Tahta Suci dalam sebuah forum tingkat tinggi di United Nations (PBB) yang berlangsung di New York pada 16 Maret 2026, dalam rangka peringatan Hari Internasional Melawan Islamofobia.

 

Kebebasan Beragama sebagai Fondasi Masyarakat

Dalam pernyataannya, Tahta Suci menyoroti meningkatnya intoleransi, diskriminasi, dan permusuhan terhadap umat beragama, termasuk Muslim, Kristen, Yahudi, dan pemeluk agama lainnya. Situasi ini dinilai sebagai akibat dari kegagalan dalam menghormati dan melindungi kebebasan beragama. Kebebasan tersebut ditegaskan sebagai landasan utama bagi terciptanya masyarakat yang adil dan damai.

Mengacu pada ajaran Paus Leo XIV, ditegaskan bahwa ketika kebebasan beragama diabaikan, manusia kehilangan kemampuan untuk merespons kebenaran secara bebas. Akibatnya, ikatan sosial dan moral dalam masyarakat perlahan melemah, kepercayaan berubah menjadi ketakutan, dialog digantikan oleh kecurigaan, dan penindasan dapat melahirkan kekerasan.

 

Dampak Diskriminasi terhadap Individu dan Masyarakat

Tahta Suci juga menekankan bahwa Islamofobia dan diskriminasi berbasis agama tidak hanya merugikan individu, tetapi juga merusak tatanan sosial secara luas. Nilai-nilai spiritual, moral, dan solidaritas dalam masyarakat ikut terkikis, sehingga memperlemah persatuan yang sangat dibutuhkan dalam konteks global saat ini.

Fenomena ini semakin diperparah oleh perkembangan media digital, di mana narasi kebencian dapat dengan cepat menyebar dan memengaruhi opini publik. Oleh karena itu, diperlukan upaya pendidikan yang lebih baik, khususnya dalam literasi digital dan kemampuan berpikir kritis, agar masyarakat mampu menyikapi informasi secara bijak.

 

Dialog Antaragama sebagai Jalan Perdamaian

Dalam penutup pernyataannya, Tahta Suci kembali menegaskan pentingnya dialog antaragama. Mengutip ajaran Paus, dialog bukan sekadar strategi, tetapi merupakan cara hidup yang melibatkan keterbukaan hati dan saling mendengarkan. Dialog yang autentik memungkinkan perbedaan menjadi sumber kekayaan, bukan perpecahan.

Melalui pendekatan ini, diharapkan tidak ada agama yang disalahgunakan untuk kepentingan tertentu, melainkan menjadi sarana untuk membangun perdamaian dan saling pengertian di tengah keberagaman.


Sumber: Gussie, K. (2026, 17 Maret). Holy See on Islamophobia: Freedom of belief is not optional. Vatican News.

Link: https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2026-03/holy-see-at-un-on-islamophobia-freedom-of-belief-is-not-optional.html

Mungkin Anda Tertarik
Pesan Hari Doa Panggilan Sedunia 2026: Menemukan Anugerah Allah di Kedalaman Hati
Artikel ini merangkum pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2026, yang menekankan bahwa panggilan adalah anugerah Allah yang ditemukan dalam keheningan dan relasi pribadi dengan Kristus. Paus mengajak umat, terutama kaum muda, untuk membuka diri lewat doa, Kitab Suci, dan kehidupan sakramental, serta meneladani Santo Yosef dalam mempercayakan diri pada Allah.
UNICEF Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah karena Anak-Anak Menanggung Dampak Terburuk
Artikel ini menyoroti seruan mendesak UNICEF untuk menghentikan perang di Timur Tengah yang menyebabkan penderitaan besar bagi lebih dari 1,2 juta anak yang mengungsi di Iran dan Lebanon. UNICEF memperingatkan bahwa ribuan anak telah menjadi korban tewas atau terluka, sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengeboman tanpa henti. Ted Chaiban, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, menegaskan bahwa anak-anak kini menanggung beban krisis paling berat, dengan rumah, sekolah, dan fasilitas penting hancur serta kebutuhan kemanusiaan yang jauh melampaui bantuan yang tersedia. UNICEF meminta gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan dukungan pendanaan mendesak agar generasi anak yang terdampak tidak kehilangan masa depan.
Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Damai, Bukan Perang dan Kehancuran
Dalam audiensi bersama ITA Airways dan Lufthansa Group, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas layanan profesional mereka dalam mendukung perjalanan apostolik Paus, sekaligus menegaskan bahwa pesawat seharusnya menjadi sarana perdamaian, bukan alat penghancur di medan perang. Paus menyoroti ironi bahwa teknologi penerbangan, yang seharusnya memajukan kemanusiaan, masih sering digunakan untuk serangan udara yang membawa ketakutan dan kehancuran. Ia menegaskan bahwa rute perjalanan Paus selalu dimaksudkan sebagai jembatan dialog dan persaudaraan, serta mengajak dunia untuk membangun “rute-rute damai di langit.”