Kembali
Laudato Si': Merawat Ciptaan, Mewujudkan Iman
Waktu Terbit 04 Agustus 2025
Penulis Jihan Nenci Meilinda

Indonesia kembali menjadi sorotan dunia internasional. Dalam laporan terbaru Global Forest Watch (2024), Indonesia tercatat sebagai negara kedua yang kehilangan tutupan hutan primer terbanyak di dunia, hanya kalah dari Brasil. Kerusakan ini tak hanya berdampak pada kelangsungan hidup flora dan fauna, tapi juga memperparah krisis iklim dan mengancam kesejahteraan manusia itu sendiri.
Kehilangan hutan primer di Indonesia didorong oleh berbagai faktor, antara lain ekspansi industri kelapa sawit, pembalakan liar, kebakaran hutan, dan lemahnya penegakan hukum lingkungan. Banyak dari kerusakan ini terjadi di wilayah yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati dan komunitas lokal yang menggantungkan hidupnya dari hutan.


Pandangan Gereja Katolik tentang Alam
Gereja Katolik memandang alam bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi, melainkan ciptaan Allah yang bernilai (lih. Kej. 1:11-12). Dalam Ensiklik Laudato Si’ (2015), Paus Fransiskus menegaskan bahwa bumi adalah “rumah bersama” yang dipercayakan kepada manusia untuk dirawat dan dilestarikan. “The earth, our common home, is like a sister with whom we share our life and a beautiful mother who opens her arms to embrace us.” (LS. 1). 
Ajaran Gereja Katolik dalam bidang lingkungan hidup mencerminkan semangat St. Fransiskus dari Assisi, pelindung ekologis, yang menyebut alam sebagai saudari dan saudara: Saudari Air, Saudari Bumi, Saudara Matahari. Penggunaan istilah “saudari” dan ”saudara” ini mencerminkan cara pandang iman yang melihat alam bukan sebagai objek untuk dikuasai, melainkan sebagai sesama ciptaan yang hidup dalam relasi harmonis. Maka dari itu, segala bentuk eksploitasi berlebihan terhadap alam yang mengabaikan keseimbangan ekosistem dan memperkaya segelintir orang atas penderitaan banyak pihak, merupakan bentuk dosa ekologis, bahkan dosa struktural terhadap tatanan ciptaan yang dikehendaki Allah.


Sikap Manusia yang Seharusnya
Menghadapi kenyataan pahit bahwa Indonesia kehilangan jutaan hektar hutan yang menyebabkan bencana ekologis, hilangnya keragaman hayati, terganggunya kehidupan masyarakat adat, serta memperparah krisis iklim global, Gereja Katolik menyerukan pertobatan ekologis. Pertobatan ini berarti mengubah cara pandang dan perilaku terhadap alam. Manusia mesti kembali pada peran aslinya sebagai "penatalayan" ciptaan, bukan "pemilik". Sebagaimana yang diserukan oleh Kitab Mazmur, “Bumi, serta segala isinya, dan dunia, serta semua yang mendiaminya, adalah milik Tuhan” (lih. Mzm. 24:1). Oleh karena itu, tugas manusia adalah mengusahakan dan memeliharanya (bdk. Kej 2:15). Sikap ini harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari, dengan menumbuhkan kesadaran kritis akan dampak konsumsi berlebihan, memilih gaya hidup yang sederhana dan ramah lingkungan, serta berpihak pada prinsip keberlanjutan yang menghormati hak generasi mendatang. Mengabaikan lingkungan berarti secara tidak langsung menghancurkan keutuhan ciptaan dan menyakiti sesama, terutama mereka yang miskin dan rentan, yang paling terdampak oleh krisis ekologi seperti banjir, kekeringan, dan kelangkaan sumber daya.
Oleh karena itu, sudah saatnya semua pihak, terutama umat beriman, mengambil bagian secara aktif dan berkelanjutan dalam gerakan penyelamatan lingkungan, termasuk pelestarian hutan Indonesia.

Merawat bumi berarti menjawab panggilan kasih terhadap Sang Pencipta dan sesama. Seperti ditegaskan dalam Ensiklik Laudato Si’, "Krisis ekologi adalah panggilan untuk pertobatan batin yang mendalam" (LS. 217). Maka, setiap tindakan kecil demi alam seperti menanam pohon, mengurangi sampah, memilih produk ramah lingkungan adalah bentuk nyata dari penghayatan akan spiritualitas ekologis yang mengakar pada iman, harapan, dan kasih akan Allah serta tanggung jawab terhadap sesama dan seluruh ciptaan.


Sumber:

______________. (2009). Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: LAI.

Paus Fransiskus. 2015. Laudato Si, Terpujilah Engkau, penerj. Martin Harun. Jakarta: DOKPEN KWI.

WRI Indonesia. (2025, 21 Mei). Kehilangan hutan di dunia pecahkan rekor pada 2024, pemicunya adalah kebakaran hebat. Diakses pada 02 Agustus 2025, pukul 09.00 WIB, dari https://wri‑indonesia.org/id/berita/kehilangan‑hutan‑di‑dunia‑pecahkan‑rekor‑pada‑2024‑pemicunya‑adalah‑kebakaran‑hebat

Mungkin Anda Tertarik
Pesan Hari Doa Panggilan Sedunia 2026: Menemukan Anugerah Allah di Kedalaman Hati
Artikel ini merangkum pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2026, yang menekankan bahwa panggilan adalah anugerah Allah yang ditemukan dalam keheningan dan relasi pribadi dengan Kristus. Paus mengajak umat, terutama kaum muda, untuk membuka diri lewat doa, Kitab Suci, dan kehidupan sakramental, serta meneladani Santo Yosef dalam mempercayakan diri pada Allah.
UNICEF Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah karena Anak-Anak Menanggung Dampak Terburuk
Artikel ini menyoroti seruan mendesak UNICEF untuk menghentikan perang di Timur Tengah yang menyebabkan penderitaan besar bagi lebih dari 1,2 juta anak yang mengungsi di Iran dan Lebanon. UNICEF memperingatkan bahwa ribuan anak telah menjadi korban tewas atau terluka, sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengeboman tanpa henti. Ted Chaiban, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, menegaskan bahwa anak-anak kini menanggung beban krisis paling berat, dengan rumah, sekolah, dan fasilitas penting hancur serta kebutuhan kemanusiaan yang jauh melampaui bantuan yang tersedia. UNICEF meminta gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan dukungan pendanaan mendesak agar generasi anak yang terdampak tidak kehilangan masa depan.
Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Damai, Bukan Perang dan Kehancuran
Dalam audiensi bersama ITA Airways dan Lufthansa Group, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas layanan profesional mereka dalam mendukung perjalanan apostolik Paus, sekaligus menegaskan bahwa pesawat seharusnya menjadi sarana perdamaian, bukan alat penghancur di medan perang. Paus menyoroti ironi bahwa teknologi penerbangan, yang seharusnya memajukan kemanusiaan, masih sering digunakan untuk serangan udara yang membawa ketakutan dan kehancuran. Ia menegaskan bahwa rute perjalanan Paus selalu dimaksudkan sebagai jembatan dialog dan persaudaraan, serta mengajak dunia untuk membangun “rute-rute damai di langit.”