Indonesia kembali menjadi sorotan dunia internasional. Dalam laporan terbaru Global Forest Watch (2024), Indonesia tercatat sebagai negara kedua yang kehilangan tutupan hutan primer terbanyak di dunia, hanya kalah dari Brasil. Kerusakan ini tak hanya berdampak pada kelangsungan hidup flora dan fauna, tapi juga memperparah krisis iklim dan mengancam kesejahteraan manusia itu sendiri.
Kehilangan hutan primer di Indonesia didorong oleh berbagai faktor, antara lain ekspansi industri kelapa sawit, pembalakan liar, kebakaran hutan, dan lemahnya penegakan hukum lingkungan. Banyak dari kerusakan ini terjadi di wilayah yang menjadi rumah bagi keanekaragaman hayati dan komunitas lokal yang menggantungkan hidupnya dari hutan.
Pandangan Gereja Katolik tentang Alam
Gereja Katolik memandang alam bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi, melainkan ciptaan Allah yang bernilai (lih. Kej. 1:11-12). Dalam Ensiklik Laudato Si’ (2015), Paus Fransiskus menegaskan bahwa bumi adalah “rumah bersama” yang dipercayakan kepada manusia untuk dirawat dan dilestarikan. “The earth, our common home, is like a sister with whom we share our life and a beautiful mother who opens her arms to embrace us.” (LS. 1).
Ajaran Gereja Katolik dalam bidang lingkungan hidup mencerminkan semangat St. Fransiskus dari Assisi, pelindung ekologis, yang menyebut alam sebagai saudari dan saudara: Saudari Air, Saudari Bumi, Saudara Matahari. Penggunaan istilah “saudari” dan ”saudara” ini mencerminkan cara pandang iman yang melihat alam bukan sebagai objek untuk dikuasai, melainkan sebagai sesama ciptaan yang hidup dalam relasi harmonis. Maka dari itu, segala bentuk eksploitasi berlebihan terhadap alam yang mengabaikan keseimbangan ekosistem dan memperkaya segelintir orang atas penderitaan banyak pihak, merupakan bentuk dosa ekologis, bahkan dosa struktural terhadap tatanan ciptaan yang dikehendaki Allah.
Sikap Manusia yang Seharusnya
Menghadapi kenyataan pahit bahwa Indonesia kehilangan jutaan hektar hutan yang menyebabkan bencana ekologis, hilangnya keragaman hayati, terganggunya kehidupan masyarakat adat, serta memperparah krisis iklim global, Gereja Katolik menyerukan pertobatan ekologis. Pertobatan ini berarti mengubah cara pandang dan perilaku terhadap alam. Manusia mesti kembali pada peran aslinya sebagai "penatalayan" ciptaan, bukan "pemilik". Sebagaimana yang diserukan oleh Kitab Mazmur, “Bumi, serta segala isinya, dan dunia, serta semua yang mendiaminya, adalah milik Tuhan” (lih. Mzm. 24:1). Oleh karena itu, tugas manusia adalah mengusahakan dan memeliharanya (bdk. Kej 2:15). Sikap ini harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari, dengan menumbuhkan kesadaran kritis akan dampak konsumsi berlebihan, memilih gaya hidup yang sederhana dan ramah lingkungan, serta berpihak pada prinsip keberlanjutan yang menghormati hak generasi mendatang. Mengabaikan lingkungan berarti secara tidak langsung menghancurkan keutuhan ciptaan dan menyakiti sesama, terutama mereka yang miskin dan rentan, yang paling terdampak oleh krisis ekologi seperti banjir, kekeringan, dan kelangkaan sumber daya.
Oleh karena itu, sudah saatnya semua pihak, terutama umat beriman, mengambil bagian secara aktif dan berkelanjutan dalam gerakan penyelamatan lingkungan, termasuk pelestarian hutan Indonesia.
Merawat bumi berarti menjawab panggilan kasih terhadap Sang Pencipta dan sesama. Seperti ditegaskan dalam Ensiklik Laudato Si’, "Krisis ekologi adalah panggilan untuk pertobatan batin yang mendalam" (LS. 217). Maka, setiap tindakan kecil demi alam seperti menanam pohon, mengurangi sampah, memilih produk ramah lingkungan adalah bentuk nyata dari penghayatan akan spiritualitas ekologis yang mengakar pada iman, harapan, dan kasih akan Allah serta tanggung jawab terhadap sesama dan seluruh ciptaan.
Sumber:
______________. (2009). Alkitab Deuterokanonika. Jakarta: LAI.
Paus Fransiskus. 2015. Laudato Si, Terpujilah Engkau, penerj. Martin Harun. Jakarta: DOKPEN KWI.
WRI Indonesia. (2025, 21 Mei). Kehilangan hutan di dunia pecahkan rekor pada 2024, pemicunya adalah kebakaran hebat. Diakses pada 02 Agustus 2025, pukul 09.00 WIB, dari https://wri‑indonesia.org/id/berita/kehilangan‑hutan‑di‑dunia‑pecahkan‑rekor‑pada‑2024‑pemicunya‑adalah‑kebakaran‑hebat