Kembali
Mengalami Pelukan Tuhan: Kasih Sayang Pribadinya dan Kehadiran Gereja yang Menghibur
Waktu Terbit 02 Maret 2024
Penulis Rosa Tri Setiani

Dalam kehidupan yang sering kali penuh dengan kesulitan dan penderitaan, kita sering kali merasa kesepian dan terpisah. Namun, di tengah semua itu, ada janji yang tidak pernah berubah: pelukan Tuhan yang penuh kasih. Ketika kita hadir di hadapan-Nya, kita mengalami kehangatan dan kelembutan-Nya yang tak tergantikan. Inilah kehadiran-Nya yang memenuhi hati kita dengan kedamaian dan penghiburan yang luar biasa.

Ketika kita merasa kehilangan, tersesat, atau terluka, Tuhan hadir untuk menghibur kita. Kasih sayang-Nya yang pribadi menyentuh setiap bagian dari keberadaan kita, memulihkan jiwa yang terluka dan memberikan kekuatan bagi yang lemah. Dia adalah sumber penghiburan yang tak terpisahkan, memeluk kita dalam pelukannya yang hangat bahkan di tengah badai kehidupan.

Tidak hanya itu, kehadiran-Nya juga tercermin melalui Gereja-Nya, komunitas iman yang menyambut kita dengan tangan terbuka. Gereja bukan hanya sekadar bangunan atau institusi, tetapi adalah keluarga besar yang menghibur dan mendukung satu sama lain dalam perjalanan iman. Di sini, kita menemukan saudara dan saudari seiman yang siap untuk berbagi sukacita dan dukacita, memperkuat satu sama lain dalam kasih Kristus.

Dengan demikian, saat kita berkumpul di dalam Gereja, kita tidak hanya hadir untuk menyembah, tetapi juga untuk mengalami pelukan Tuhan dan kasih sayang pribadinya melalui komunitas iman kita. Dalam persekutuan yang hangat dan bersemangat ini, kita merasakan kehadiran-Nya yang menghibur dan memperbaharui jiwa kita.

Oleh karena itu, mari kita hadir dengan penuh keyakinan dalam setiap kesempatan bersama Gereja. Mari kita terbuka untuk menerima pelukan Tuhan dan kasih sayang-Nya yang tak terbatas melalui komunitas iman kita. Dengan demikian, kita akan mengalami kehadiran Gereja yang sungguh menghibur dan memenuhi hati kita dengan sukacita yang sejati.

Mungkin Anda Tertarik
Paus Leo XIV: Teknologi Harus Melayani Martabat Manusia
Artikel ini mengulas pesan Paus Leo XIV dalam rangka Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 yang menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan harus selalu berorientasi pada martabat manusia. Paus menyoroti tantangan antropologis di era AI, pentingnya menjaga identitas dan relasi manusia yang autentik, serta menyerukan tanggung jawab bersama dan pendidikan literasi digital agar teknologi sungguh melayani kebaikan bersama sebagai sarana pewartaan dan komunikasi yang manusiawi.
Paus Leo XIV: Kita Adalah Anak-Anak Allah yang Dikasihi
Dalam katekese Audiensi Umum, Paus Leo XIV menegaskan bahwa inti iman Kristiani adalah keyakinan bahwa manusia adalah anak-anak Allah yang dikasihi. Dengan merujuk pada Dei Verbum, Paus mengajak umat untuk memahami wahyu Allah sebagai relasi kasih yang hidup, yang mencapai kepenuhannya dalam Yesus Kristus. Melalui kemanusiaan Yesus, wajah Allah sebagai Bapa diungkapkan, dan umat diajak hidup dalam pengharapan bahwa tidak ada apa pun yang dapat memisahkan mereka dari kasih Allah.
Pesan Paus Leo XIV pada Hari Orang Sakit Sedunia 2026
Artikel ini mengulas pesan Paus Leo XIV dalam rangka Hari Orang Sakit Sedunia ke-34 dengan tema “Belarasa Orang Samaria: Mengasihi dengan Menanggung Derita Sesama.” Paus mengajak umat beriman untuk meneladani sikap Orang Samaria yang baik hati dalam Injil Luk. 10:25-37, yaitu kepekaan terhadap penderitaan sesama dan keberanian untuk bertindak. Melalui refleksi biblis dan ajaran Gereja, artikel ini menegaskan bahwa kasih sejati diwujudkan melalui kehadiran, kepedulian, serta pendampingan bagi mereka yang sakit dan menderita. Pesan Paus juga menyoroti pentingnya solidaritas, pelayanan pastoral, dan peran komunitas sebagai wujud nyata kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.