Kembali
Paus Leo XIV: Kita Adalah Anak-Anak Allah yang Dikasihi
Waktu Terbit 22 Januari 2026
Penulis Jihan Nenci Meilinda
Dalam Audiensi Umum mingguan di Vatikan, Paus Leo XIV kembali mengajak umat beriman untuk merenungkan kekayaan iman Kristiani dengan menegaskan satu kebenaran mendasar, yaitu kita adalah anak-anak Allah yang dikasihi, dan tidak ada apa pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus. Seruan ini disampaikan Paus saat melanjutkan katekese tentang Dei Verbum, Konstitusi Dogmatis Konsili Vatikan II mengenai Wahyu Ilahi, yang sebelumnya ia sebut sebagai salah satu dokumen paling indah dan penting dalam Gereja.
Paus mengawali refleksinya dengan menegaskan bahwa dalam iman Kristiani, Allah tidak mewahyukan diri-Nya secara abstrak atau jauh, melainkan melalui dialog perjanjian. Allah menyapa manusia sebagai sahabat, berbagi sejarah keselamatan, dan mengundang manusia masuk dalam persekutuan hidup dengan-Nya. Maka, pengenalan akan Allah bukan sekadar soal ide atau pengetahuan intelektual, melainkan sebuah relasi yang hidup dan saling memberi diri.

Yesus Kristus, Kepenuhan Wahyu Allah
Menurut Paus Leo XIV, kepenuhan wahyu Allah terjadi dalam pribadi Yesus Kristus. Mengutip Dei Verbum, Paus menegaskan bahwa “kebenaran terdalam tentang Allah dan keselamatan manusia bercahaya bagi kita dalam Kristus, yang adalah pengantara sekaligus kepenuhan seluruh wahyu.” Dalam diri Yesus, Allah tidak hanya berbicara tentang diri-Nya, tetapi memberikan diri-Nya secara utuh kepada manusia.
Yesus, lanjut Paus, memperkenalkan Allah sebagai Bapa dengan melibatkan manusia dalam relasi-Nya sendiri dengan Bapa. Melalui Putra yang diutus, manusia memperoleh akses kepada Bapa dalam Roh Kudus dan dipanggil untuk ambil bagian dalam hidup ilahi. Karena itu, manusia mengenal Allah secara penuh justru dengan masuk ke dalam relasi Yesus dengan Bapa-Nya.
“Berkat Yesus,” ujar Paus, “kita mengenal Allah sebagaimana kita dikenal oleh-Nya.” Dalam Kristus, Allah menyatakan sekaligus siapa diri-Nya dan siapa diri kita sebenarnya, yakni anak-anak Allah, yang diciptakan menurut gambar Sang Sabda.

Dipanggil sebagai Anak dalam Sang Anak
Paus Leo XIV kemudian mengingatkan sabda Yesus dalam Injil Matius (Mat. 6:6;8) “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” dan “Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan.” Sabda ini, menurut Paus, meneguhkan keyakinan bahwa relasi dengan Allah adalah relasi anak dengan Bapa yang penuh perhatian dan kasih.
Yesus Kristus adalah tempat di mana manusia mengenal kebenaran tentang Allah sebagai Bapa, sekaligus menemukan jati dirinya sebagai anak. Mengutip Surat Santo Paulus kepada jemaat di Galatia (Gal. 4:6), Paus menegaskan bahwa melalui Yesus, manusia diangkat menjadi anak-anak Allah dan menerima Roh yang berseru, “Abba, ya Bapa.”

Kemanusiaan Yesus Mengungkapkan Wajah Allah
Dalam refleksi yang mendalam, Paus Leo XIV menekankan bahwa Yesus mewahyukan Bapa justru melalui kemanusiaan-Nya yang utuh dan nyata. Sebagai Sabda yang menjadi daging dan tinggal di antara manusia, Yesus menyatakan Allah bukan dengan mengurangi sisi kemanusiaan, tetapi melalui kemanusiaan-Nya itu sendiri.
“Kebenaran Allah tidak terungkap secara penuh jika kemanusiaan disingkirkan,” tegas Paus. Justru kemanusiaan Yesus, cara-Nya melihat, merasakan, hadir, menyembuhkan, mengajar, menderita, wafat, dan bangkit, menjadi sarana pewahyuan kasih Allah yang sempurna. Yesus tidak hanya menyelamatkan melalui wafat dan kebangkitan-Nya, tetapi melalui seluruh hidup-Nya.
Dengan tubuh yang nyata dan kehidupan yang sungguh manusiawi, Yesus mengundang umat beriman untuk berbagi cara pandang-Nya terhadap realitas dan dunia. Di dalam diri-Nya, kebenaran Allah dikomunikasikan secara hidup dan konkret.

Tidak Ada yang Dapat Memisahkan Kita dari Kasih Allah
Mengakhiri katekesenya, Paus Leo XIV menegaskan sebuah pengharapan besar bagi umat beriman, dengan mengikuti jalan Yesus sampai akhir, manusia mencapai kepastian bahwa tidak ada apa pun yang dapat memisahkan dirinya dari kasih Allah. Mengutip Santo Paulus (Rm. 8:31), Paus berkata, “Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?”
Pesan ini menjadi penghiburan dan kekuatan bagi umat Kristiani di tengah dunia yang sering diliputi ketidakpastian. Dalam Yesus Kristus, umat diajak untuk hidup sebagai anak-anak Allah yang dikasihi, berjalan dalam kepercayaan penuh kepada Bapa, dan mewartakan kasih-Nya melalui hidup yang nyata dan manusiawi.

Sumber:
Castellano Lubov, D. (2026, 21 Januari). Pope at Audience: We are God's beloved children. Vatican News.
Mungkin Anda Tertarik
Paus Leo XIV: Teknologi Harus Melayani Martabat Manusia
Artikel ini mengulas pesan Paus Leo XIV dalam rangka Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60 yang menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan harus selalu berorientasi pada martabat manusia. Paus menyoroti tantangan antropologis di era AI, pentingnya menjaga identitas dan relasi manusia yang autentik, serta menyerukan tanggung jawab bersama dan pendidikan literasi digital agar teknologi sungguh melayani kebaikan bersama sebagai sarana pewartaan dan komunikasi yang manusiawi.
Pesan Paus Leo XIV pada Hari Orang Sakit Sedunia 2026
Artikel ini mengulas pesan Paus Leo XIV dalam rangka Hari Orang Sakit Sedunia ke-34 dengan tema “Belarasa Orang Samaria: Mengasihi dengan Menanggung Derita Sesama.” Paus mengajak umat beriman untuk meneladani sikap Orang Samaria yang baik hati dalam Injil Luk. 10:25-37, yaitu kepekaan terhadap penderitaan sesama dan keberanian untuk bertindak. Melalui refleksi biblis dan ajaran Gereja, artikel ini menegaskan bahwa kasih sejati diwujudkan melalui kehadiran, kepedulian, serta pendampingan bagi mereka yang sakit dan menderita. Pesan Paus juga menyoroti pentingnya solidaritas, pelayanan pastoral, dan peran komunitas sebagai wujud nyata kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.
Paus Leo XIV kepada Neokatekumenal: Jadilah Pembangun dan Saksi Persatuan
Artikel ini mengulas pertemuan Paus Leo XIV dengan Neokatekumenal Way, di mana Paus mengapresiasi karya misioner mereka sekaligus mengajak untuk menjadi saksi persatuan dalam Gereja. Paus menekankan pentingnya menghindari kekakuan dan moralisme dalam pewartaan, serta hidup dalam semangat kebebasan, kasih, dan persekutuan.