Kembali
Paus Leo XIV: Gereja adalah Misteri yang Menjadi Nyata di Tengah Dunia yang Terpecah
Waktu Terbit 19 Februari 2026
Penulis Jihan Nenci Meilinda

Dalam Audiensi Umum mingguan yang berlangsung pada Rabu Abu (18/02), Paus Leo XIV menegaskan bahwa Gereja bukanlah realitas yang gelap atau sulit dipahami, melainkan “misteri yang menjadi nyata dan dapat dialami.” Refleksi ini disampaikan Paus saat melanjutkan katekese tentang Konsili Vatikan II, dengan fokus pada Konstitusi Dogmatis Lumen gentium tentang Gereja.

Dalam katekese tersebut, Paus mengingatkan bahwa selama beberapa pekan sebelumnya ia telah mengulas Konstitusi Dogmatis Dei Verbum mengenai Wahyu Ilahi. Melalui refleksi itu, umat diajak memahami bagaimana Allah mewahyukan diri-Nya dan rencana kasih-Nya untuk mempersatukan seluruh umat manusia dalam Putra-Nya, Yesus Kristus. Menurut Paus, hanya dalam terang misteri inilah asal-usul dan perutusan Gereja dapat dipahami dengan benar.

 

Gereja dan Makna “Misteri”

Paus Leo menjelaskan bahwa ketika Konsili Vatikan II hendak menjelaskan hakikat Gereja, para Bapa Konsili terlebih dahulu menelusuri asal-usulnya. Dalam Lumen gentium, yang disahkan pada 21 November 1964, Gereja dipahami dengan menggunakan istilah “misteri” yang diambil dari surat-surat Rasul Paulus.

Istilah “misteri”, tegas Paus, tidak dimaksudkan untuk menyatakan sesuatu yang kabur atau tak terjangkau oleh akal budi. Sebaliknya, menurut pemahaman Paulus (terutama dalam Surat kepada Jemaat di Efesus) misteri menunjuk pada rencana Allah yang sebelumnya tersembunyi dan kini dinyatakan. Misteri ini adalah kehendak Allah untuk mempersatukan seluruh ciptaan melalui karya pendamaian Yesus Kristus, yang berpuncak pada wafat-Nya di kayu salib.

 

Kristus Mengatasi Perpecahan

Paus Leo menyoroti bahwa misteri persatuan ini pertama-tama dialami dalam perayaan liturgi, ketika umat berkumpul sebagai satu jemaat. Dalam perayaan tersebut, perbedaan-perbedaan menjadi relatif, sebab yang utama adalah kebersamaan yang ditarik oleh kasih Kristus. Kristuslah yang, melalui salib-Nya, meruntuhkan tembok pemisah antara individu maupun kelompok sosial.

Mengacu pada Rasul Paulus, Paus menegaskan bahwa kondisi umat manusia dewasa ini masih ditandai oleh fragmentasi yang tidak mampu disembuhkan oleh kekuatan manusia semata, meskipun kerinduan akan kesatuan berdiam di dalam hati setiap orang. Namun, karya Yesus Kristus, oleh kuasa Roh Kudus, masuk ke dalam situasi keterpecahan itu dan mengalahkan kekuatan-kekuatan pemecah belah.

 

Gereja sebagai Tanda dan Sarana Keselamatan

Dalam terang ini, Paus Leo menegaskan bahwa terdapat keterkaitan mendalam antara misteri keselamatan Allah dan Gereja. Gereja, katanya, adalah misteri yang menjadi dapat dilihat dan dialami. Gereja sekaligus merupakan tanda dan sarana keselamatan: tanda, karena Gereja menampilkan secara nyata persatuan yang dihasilkan oleh salib dan kebangkitan Kristus; dan sarana, karena melalui Gereja Allah melaksanakan rencana-Nya untuk mempersatukan manusia dengan diri-Nya dan dengan sesama.

Mengakhiri katekesenya, Paus mengajak umat beriman untuk memohon agar Tuhan terus membimbing Gereja dalam perutusannya sebagai sarana pengudusan dan pendamaian, khususnya di tengah dunia yang masih dilukai oleh perpecahan.

 

Sumber:
Lubov, C. D. (2026, 18 Februari). Pope at Audience: ‘The Church is the mystery made perceptible’. Vatican News.

Link: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2026-02/pope-at-audience-church-is-the-mystery-made-perceptable1.html

Mungkin Anda Tertarik
Gereja Katolik Prioritaskan Perdamaian Dunia di Tengah Konflik Timur Tengah
Artikel ini menyoroti pernyataan Mgr. Ignatius Kardinal Suharyo yang menegaskan bahwa Gereja Katolik menempatkan perdamaian dunia sebagai prioritas utama, sejalan dengan seruan konsisten Paus Leo XIV untuk menghentikan perang di Timur Tengah. Dalam Misa Pontifikal Paskah 2026 di Katedral Jakarta, Kardinal Suharyo menyerukan umat untuk terus berdoa bagi perdamaian, sambil menyoroti dampak destruktif perang yang merusak bumi dan kemanusiaan. Ia juga menekankan bahwa konflik dipicu oleh keserakahan dan merosotnya kesadaran moral, serta mengajak umat untuk peduli pada keutuhan ciptaan melalui tindakan nyata. Di tengah kegelapan situasi global, Kardinal menegaskan pentingnya tetap teguh dalam iman, harapan, dan kasih.
Pesan Hari Doa Panggilan Sedunia 2026: Menemukan Anugerah Allah di Kedalaman Hati
Artikel ini merangkum pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2026, yang menekankan bahwa panggilan adalah anugerah Allah yang ditemukan dalam keheningan dan relasi pribadi dengan Kristus. Paus mengajak umat, terutama kaum muda, untuk membuka diri lewat doa, Kitab Suci, dan kehidupan sakramental, serta meneladani Santo Yosef dalam mempercayakan diri pada Allah.
UNICEF Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah karena Anak-Anak Menanggung Dampak Terburuk
Artikel ini menyoroti seruan mendesak UNICEF untuk menghentikan perang di Timur Tengah yang menyebabkan penderitaan besar bagi lebih dari 1,2 juta anak yang mengungsi di Iran dan Lebanon. UNICEF memperingatkan bahwa ribuan anak telah menjadi korban tewas atau terluka, sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengeboman tanpa henti. Ted Chaiban, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, menegaskan bahwa anak-anak kini menanggung beban krisis paling berat, dengan rumah, sekolah, dan fasilitas penting hancur serta kebutuhan kemanusiaan yang jauh melampaui bantuan yang tersedia. UNICEF meminta gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan dukungan pendanaan mendesak agar generasi anak yang terdampak tidak kehilangan masa depan.