Kembali
Paus Leo XIV: Katekis Menjadi Sahabat dalam Perjalanan Iman
Waktu Terbit 01 Oktober 2025
Penulis Jihan Nenci Meilinda
Paus Leo XIV memimpin Misa di Lapangan Basilika St. Santo Petrus pada Minggu (29/09) dalam rangka Yubileum Katekis. Dalam homilinya, Paus memuji peran katekis yang setia mendampingi umat dalam perjalanan iman, sekaligus mengajak semua orang Kristen untuk saling menolong agar mampu belajar percaya, berharap, dan akhirnya mengasihi.
Mengacu pada bacaan Injil hari itu (Luk. 16:19-31) tentang orang kaya dan Lazarus, yang juga pernah dibacakan dalam Yubileum Katekis Tahun Kerahiman 2016. Paus menegaskan bahwa kisah tersebut tetap aktual. “Di depan pintu kemewahan masa kini berdiri penderitaan bangsa-bangsa yang dilanda perang dan eksploitasi. Seiring abad berganti, seakan tidak ada yang berubah,” katanya.
Paus menekankan bahwa Injil memberi jaminan akan keadilan Allah, dimana penderitaan orang miskin akan berakhir dan pesta orang kaya yang lalai akan dihentikan. Ia mengingatkan bahwa manusia hidup tidak pernah ditinggalkan oleh penyelenggaraan Allah, dan bahwa kebangkitan Kristus membawa harapan akan perubahan hidup bagi semua orang.
Dalam refleksinya, Paus Leo XIV menguraikan arti kata katekis yang berasal dari bahasa Yunani, dengan arti “mengajar dengan suara lantang, membuat bergema.” Seorang katekis, jelasnya, adalah pewarta yang menyampaikan kebenaran Injil lewat kata-kata sekaligus kesaksian hidup. “Kita semua telah diajar untuk percaya melalui kesaksian mereka yang telah percaya sebelum kita,” ujarnya.
Paus menambahkan, dari masa kanak-kanak hingga usia lanjut, katekis hadir untuk menemani umat dalam iman, menjadi rekan sejalan yang membimbing hati agar terbuka kepada Allah dan sesama. Dengan demikian, katekis bekerja sama dalam karya pastoral Gereja, mendengarkan serta melayani kerinduan manusia akan keadilan dan kebenaran.
Mengutip St. Agustinus kepada Diakon Deogratias, Paus Leo XIV menutup homilinya, “Jelaskanlah segala sesuatu sedemikian rupa sehingga yang mendengarkan, dengan mendengar dapat percaya; dengan percaya dapat berharap; dan dengan berharap dapat mengasihi.”

Sumber: Vatican News
Mungkin Anda Tertarik
Pesan Hari Doa Panggilan Sedunia 2026: Menemukan Anugerah Allah di Kedalaman Hati
Artikel ini merangkum pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2026, yang menekankan bahwa panggilan adalah anugerah Allah yang ditemukan dalam keheningan dan relasi pribadi dengan Kristus. Paus mengajak umat, terutama kaum muda, untuk membuka diri lewat doa, Kitab Suci, dan kehidupan sakramental, serta meneladani Santo Yosef dalam mempercayakan diri pada Allah.
UNICEF Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah karena Anak-Anak Menanggung Dampak Terburuk
Artikel ini menyoroti seruan mendesak UNICEF untuk menghentikan perang di Timur Tengah yang menyebabkan penderitaan besar bagi lebih dari 1,2 juta anak yang mengungsi di Iran dan Lebanon. UNICEF memperingatkan bahwa ribuan anak telah menjadi korban tewas atau terluka, sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengeboman tanpa henti. Ted Chaiban, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, menegaskan bahwa anak-anak kini menanggung beban krisis paling berat, dengan rumah, sekolah, dan fasilitas penting hancur serta kebutuhan kemanusiaan yang jauh melampaui bantuan yang tersedia. UNICEF meminta gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan dukungan pendanaan mendesak agar generasi anak yang terdampak tidak kehilangan masa depan.
Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Damai, Bukan Perang dan Kehancuran
Dalam audiensi bersama ITA Airways dan Lufthansa Group, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas layanan profesional mereka dalam mendukung perjalanan apostolik Paus, sekaligus menegaskan bahwa pesawat seharusnya menjadi sarana perdamaian, bukan alat penghancur di medan perang. Paus menyoroti ironi bahwa teknologi penerbangan, yang seharusnya memajukan kemanusiaan, masih sering digunakan untuk serangan udara yang membawa ketakutan dan kehancuran. Ia menegaskan bahwa rute perjalanan Paus selalu dimaksudkan sebagai jembatan dialog dan persaudaraan, serta mengajak dunia untuk membangun “rute-rute damai di langit.”