Kembali
Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60: Menjaga Suara dan Wajah Manusia
Waktu Terbit 30 September 2025
Penulis Jihan Nenci Meilinda
Tahta Suci mengumumkan bahwa tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-60, yang akan dirayakan pada 17 Mei 2026, adalah “Preserving human voices and faces” atau “Menjaga Suara dan Wajah Manusia.”
Dalam pernyataan resmi, Dikasteri untuk Komunikasi menegaskan bahwa ekosistem komunikasi modern kini semakin dipengaruhi oleh teknologi, mulai dari algoritma yang menyaring berita hingga kecerdasan buatan (AI) yang dapat menulis teks dan percakapan. Meski menawarkan kemungkinan yang sebelumnya tak terbayangkan, teknologi tetap tidak dapat menggantikan kapasitas manusia untuk berempati, beretika, dan bertanggung jawab secara moral.
Dikasteri menekankan bahwa komunikasi publik membutuhkan penilaian manusia, bukan sekadar pola data. Oleh karena itu, tantangan ke depan adalah memastikan agar manusia tetap menjadi pengarah utama, sementara mesin hanya berfungsi sebagai alat yang menghubungkan dan memfasilitasi kehidupan, bukan mengikis suara dan wajah manusia.

Risiko dari AI
Pernyataan tersebut juga memperingatkan bahaya nyata dari penggunaan AI, seperti menghasilkan informasi menyesatkan, mereplikasi bias, memperkuat disinformasi, hingga melanggar privasi. Ketergantungan berlebihan pada AI dinilai dapat melemahkan keterampilan berpikir kritis dan kreativitas, sekaligus menimbulkan risiko sentralisasi kekuasaan dan ketidakadilan.
Sebagai jawaban, Gereja menilai penting untuk mengintegrasikan Media Literacy atau bahkan Media and Artificial Intelligence Literacy (MAIL) ke dalam sistem pendidikan formal, agar terutama kaum muda mampu berpikir kritis dan berkembang dalam kebebasan roh.

Kepedulian Paus terhadap Perkembangan Teknologi
Paus Leo XIV secara konsisten menaruh perhatian pada tantangan yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi, khususnya AI. Dalam pertemuan dengan para kardinal setelah terpilih, beliau menjelaskan bahwa nama kepausannya terinspirasi dari Paus Leo XIII yang menulis ensiklik Rerum Novarum di tengah Revolusi Industri pertama.
Kini, kata Paus, Gereja kembali menawarkan ajaran sosialnya sebagai jawaban atas “revolusi industri baru” yang ditandai perkembangan kecerdasan buatan. Dalam kesempatan lain, Paus Leo juga menekankan bahwa manfaat dan risiko AI harus selalu dinilai berdasarkan kriteria etis yang tertinggi: melindungi martabat manusia yang tak ternilai, serta menghormati kekayaan budaya dan keragaman spiritual bangsa-bangsa.

Sumber: Vatican News
Link: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2025-09/pope-vatican-theme-world-day-communications-human-voices-faces.html 
Mungkin Anda Tertarik
Pesan Hari Doa Panggilan Sedunia 2026: Menemukan Anugerah Allah di Kedalaman Hati
Artikel ini merangkum pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2026, yang menekankan bahwa panggilan adalah anugerah Allah yang ditemukan dalam keheningan dan relasi pribadi dengan Kristus. Paus mengajak umat, terutama kaum muda, untuk membuka diri lewat doa, Kitab Suci, dan kehidupan sakramental, serta meneladani Santo Yosef dalam mempercayakan diri pada Allah.
UNICEF Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah karena Anak-Anak Menanggung Dampak Terburuk
Artikel ini menyoroti seruan mendesak UNICEF untuk menghentikan perang di Timur Tengah yang menyebabkan penderitaan besar bagi lebih dari 1,2 juta anak yang mengungsi di Iran dan Lebanon. UNICEF memperingatkan bahwa ribuan anak telah menjadi korban tewas atau terluka, sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengeboman tanpa henti. Ted Chaiban, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, menegaskan bahwa anak-anak kini menanggung beban krisis paling berat, dengan rumah, sekolah, dan fasilitas penting hancur serta kebutuhan kemanusiaan yang jauh melampaui bantuan yang tersedia. UNICEF meminta gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan dukungan pendanaan mendesak agar generasi anak yang terdampak tidak kehilangan masa depan.
Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Damai, Bukan Perang dan Kehancuran
Dalam audiensi bersama ITA Airways dan Lufthansa Group, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas layanan profesional mereka dalam mendukung perjalanan apostolik Paus, sekaligus menegaskan bahwa pesawat seharusnya menjadi sarana perdamaian, bukan alat penghancur di medan perang. Paus menyoroti ironi bahwa teknologi penerbangan, yang seharusnya memajukan kemanusiaan, masih sering digunakan untuk serangan udara yang membawa ketakutan dan kehancuran. Ia menegaskan bahwa rute perjalanan Paus selalu dimaksudkan sebagai jembatan dialog dan persaudaraan, serta mengajak dunia untuk membangun “rute-rute damai di langit.”