Kembali
Perayaan Kamis Putih Umat Katolik: Makna, Sejarah, dan Ritualnya
Waktu Terbit 17 April 2025
Penulis Rosa Tri Setiani

Kamis Putih adalah salah satu hari paling sakral dalam kalender liturgi umat Katolik dan Kristen secara umum. Hari ini jatuh pada Kamis sebelum Paskah dan menandai awal dari Tri Hari Suci (Triduum Paschale), yang meliputi Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci. Kamis Putih dikenal juga dengan sebutan Kamis Suci atau Maundy Thursday dalam bahasa Inggris.

Makna dan Sejarah Kamis Putih

Kamis Putih memperingati Perjamuan Malam Terakhir yang dilakukan Yesus Kristus bersama para murid-Nya sebelum penyaliban-Nya. Dalam perjamuan ini, Yesus memperkenalkan Sakramen Ekaristi, yaitu tubuh dan darah-Nya yang diwakili oleh roti dan anggur, sebagai lambang pengorbanan-Nya untuk penebusan dosa umat manusia.

Selain itu, Yesus juga melakukan tindakan yang sangat rendah hati yaitu mencuci kaki para murid-Nya, sebuah pekerjaan yang biasanya dilakukan oleh budak. Tindakan ini menjadi simbol pelayanan tanpa pamrih dan kerendahan hati yang harus diteladani oleh setiap umat Katolik. Yesus mengajarkan bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang melayani, bukan dilayani.

Peristiwa penting lain yang terjadi pada Kamis Putih antara lain pengkhianatan Judas Iskariot yang bersepakat menyerahkan Yesus kepada para imam kepala dengan imbalan 30 keping perak, doa Yesus di Taman Getsemani yang penuh pergumulan, serta penangkapan Yesus oleh pasukan yang dipimpin oleh Yudas.

Ritual dan Perayaan Kamis Putih

Perayaan Kamis Putih biasanya dimulai dengan Misa Perjamuan Terakhir pada malam hari, yang berlangsung sekitar 1,5 hingga 2 jam. Misa ini memiliki beberapa bagian khas, yaitu:

  • Perayaan Ekaristi sebagai pengingat Perjamuan Terakhir Yesus.
  • Pembasuhan kaki oleh imam kepada 12 umat terpilih, meniru tindakan Yesus yang membasuh kaki murid-murid-Nya, sebagai lambang pelayanan dan kasih tanpa syarat.
  • Pengalihan Sakramen Mahakudus ke tempat penyimpanan khusus (tabernakel), yang menandai Yesus yang akan ditinggalkan dalam penderitaan-Nya.
  • Adorasi Ekaristi (Tuguran), yaitu doa berjaga bersama Yesus di Taman Getsemani, sebagai bentuk kesiapsiagaan dan penghayatan penderitaan-Nya.

Suasana ibadah Kamis Putih sangat khidmat dan hening, dengan altar yang dilucuti sebagai simbol Yesus yang ditinggalkan dan dikhianati. Selama masa ini, umat diajak untuk merenungkan nilai kasih, pengorbanan, pelayanan, kerendahan hati, dan pengampunan.

Pesan dan Refleksi Kamis Putih

Perayaan Kamis Putih bukan sekadar ritual tahunan, melainkan ajang refleksi mendalam bagi umat Katolik untuk meneladani Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Melalui peristiwa ini, umat diajak untuk:

  • Menghidupkan kasih dan pelayanan tanpa pamrih kepada sesama.
  • Menumbuhkan kerendahan hati dan kesederhanaan.
  • Merenungkan makna pengorbanan dan pengampunan.
  • Memperkuat kebersamaan dan kesatuan dalam komunitas iman.

Dengan demikian, Kamis Putih menjadi momentum spiritual yang sangat penting dalam menyambut sukacita Paskah, memperingati kematian dan kebangkitan Yesus Kristus sebagai kemenangan atas dosa dan maut.

Perayaan Kamis Putih pada tahun 2025 jatuh pada tanggal 17 April dan menjadi pembuka rangkaian Tri Hari Suci yang sangat sakral bagi umat Katolik di seluruh dunia. Melalui perayaan ini, umat diajak untuk semakin memperdalam iman dan meneladani kasih Kristus dalam kehidupan sehari-hari.

Mungkin Anda Tertarik
Pesan Hari Doa Panggilan Sedunia 2026: Menemukan Anugerah Allah di Kedalaman Hati
Artikel ini merangkum pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2026, yang menekankan bahwa panggilan adalah anugerah Allah yang ditemukan dalam keheningan dan relasi pribadi dengan Kristus. Paus mengajak umat, terutama kaum muda, untuk membuka diri lewat doa, Kitab Suci, dan kehidupan sakramental, serta meneladani Santo Yosef dalam mempercayakan diri pada Allah.
UNICEF Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah karena Anak-Anak Menanggung Dampak Terburuk
Artikel ini menyoroti seruan mendesak UNICEF untuk menghentikan perang di Timur Tengah yang menyebabkan penderitaan besar bagi lebih dari 1,2 juta anak yang mengungsi di Iran dan Lebanon. UNICEF memperingatkan bahwa ribuan anak telah menjadi korban tewas atau terluka, sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengeboman tanpa henti. Ted Chaiban, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, menegaskan bahwa anak-anak kini menanggung beban krisis paling berat, dengan rumah, sekolah, dan fasilitas penting hancur serta kebutuhan kemanusiaan yang jauh melampaui bantuan yang tersedia. UNICEF meminta gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan dukungan pendanaan mendesak agar generasi anak yang terdampak tidak kehilangan masa depan.
Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Damai, Bukan Perang dan Kehancuran
Dalam audiensi bersama ITA Airways dan Lufthansa Group, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas layanan profesional mereka dalam mendukung perjalanan apostolik Paus, sekaligus menegaskan bahwa pesawat seharusnya menjadi sarana perdamaian, bukan alat penghancur di medan perang. Paus menyoroti ironi bahwa teknologi penerbangan, yang seharusnya memajukan kemanusiaan, masih sering digunakan untuk serangan udara yang membawa ketakutan dan kehancuran. Ia menegaskan bahwa rute perjalanan Paus selalu dimaksudkan sebagai jembatan dialog dan persaudaraan, serta mengajak dunia untuk membangun “rute-rute damai di langit.”