Kembali
Sabda Allah Menjawab Kerinduan Manusia akan Makna dan Kebenaran
Waktu Terbit 12 Februari 2026
Penulis Jihan Nenci Meilinda

Dalam Audiensi Umum mingguan yang berlangsung di Aula Paulus VI, Vatikan, pada Rabu, 11 Februari 2026, Paus Leo XIV menegaskan bahwa Sabda Allah berbicara langsung kepada kehidupan setiap orang beriman dan menjawab kerinduan terdalam manusia akan makna dan kebenaran hidup. Melalui Sabda-Nya, Allah mengajak manusia masuk ke dalam dialog yang hidup dan personal, sekaligus meneguhkan Gereja dalam perutusannya di dunia.

“Kita hidup dikelilingi oleh begitu banyak kata, tetapi betapa banyak di antaranya yang kosong,” ujar Paus. Menurutnya, tidak sedikit kata-kata yang tampak bijaksana namun tidak menyentuh tujuan akhir hidup manusia. Sebaliknya, Sabda Allah memiliki daya yang mengubah karena mengarahkan manusia kepada kebenaran sejati.

 

Sabda Allah dan Gereja dalam Terang Konsili Vatikan II

Dalam katekese lanjutan tentang dokumen-dokumen Konsili Vatikan II, Paus Leo XIV kembali menyoroti Konstitusi Dogmatis Dei Verbum (1965) tentang Wahyu Ilahi. Ia menekankan adanya hubungan yang mendalam dan vital antara Sabda Allah dan Gereja.

Konsili, jelas Paus, mengingatkan bahwa Gereja selalu menghormati Kitab Suci sebagaimana ia menghormati Tubuh Kristus sendiri. Gereja tidak pernah berhenti merenungkan nilai dan kekuatan Sabda Allah, karena darinya Gereja memperoleh hidup dan arah misinya.

 

Kitab Suci, Kristus, dan Gereja: Satu Kesatuan yang Tak Terpisahkan

Paus Leo XIV menjelaskan bahwa alasan terdalam mengapa Kitab Suci memiliki kekuatan yang demikian besar terletak pada hubungannya yang erat dengan Yesus Kristus. Kristus adalah Sabda Hidup Bapa, Sabda Allah yang menjadi manusia. Seluruh Kitab Suci mewartakan pribadi-Nya dan kehadiran-Nya yang menyelamatkan bagi setiap manusia.

Karena itu, Kitab Suci menemukan “rumahnya yang sejati” dalam Gereja. Di bawah ilham Roh Kudus, Kitab Suci lahir dari umat Allah dan diperuntukkan bagi umat Allah. Dalam kehidupan dan iman Gereja, Kitab Suci memiliki ruang untuk menyingkapkan maknanya dan menampakkan dayanya.

 

Sabda Allah Menggerakkan Gereja dalam Misi

Paus menegaskan bahwa Gereja dengan penuh kerinduan ingin agar Sabda Allah menjangkau setiap anggotanya dan menumbuhkan perjalanan iman mereka. Namun Sabda Allah tidak hanya membangun Gereja dari dalam; Sabda itu juga mendorong Gereja untuk keluar dari dirinya sendiri dan terbuka bagi misi kepada semua orang.

Dengan demikian, Sabda Allah bukan sekadar teks untuk dibaca, melainkan daya hidup yang menggerakkan Gereja untuk mewartakan Kristus kepada dunia.

 

Merenungkan Kitab Suci sebagai Dialog dengan Allah

Mengutip Santo Hieronimus yang berkata, “Tidak mengenal Kitab Suci berarti tidak mengenal Kristus,” Paus Leo XIV menekankan bahwa tujuan akhir membaca dan merenungkan Sabda Allah adalah mengenal Kristus dan, melalui Dia, masuk ke dalam relasi dengan Allah.

Dei Verbum, jelas Paus, memandang Wahyu Ilahi sebagai sebuah dialog, di mana Allah berbicara kepada manusia sebagai sahabat. Dialog ini sungguh terjadi ketika Kitab Suci dibaca dan direnungkan dengan sikap batin yang penuh doa. Dengan demikian, Sabda Allah menjadi ruang perjumpaan dan percakapan yang hidup antara Allah dan manusia.

 

Kitab Suci sebagai Jiwa Pelayanan Gereja

Paus Leo XIV juga menegaskan peran aktif Kitab Suci dalam kehidupan Gereja. Sabda Allah yang dipercayakan kepada Gereja, dijaga, dan dijelaskan olehnya, menopang serta menghidupkan komunitas Kristiani, terutama dalam perayaan Ekaristi dan sakramen-sakramen.

Karena itu, kecintaan dan keakraban dengan Kitab Suci menjadi sangat penting bagi mereka yang menjalankan pelayanan Sabda, seperti para uskup, imam, diakon, dan katekis. Paus juga menegaskan nilai penting karya para ahli Kitab Suci dan ilmu-ilmu biblika, serta menekankan bahwa teologi menemukan dasar dan jiwanya dalam Sabda Allah.

 

Penutup

Melalui katekese ini, Paus Leo XIV kembali mengingatkan bahwa Sabda Allah bukan sekadar kumpulan teks religius, melainkan suara Allah yang hidup, yang menanggapi kerinduan manusia akan makna, kebenaran, dan keselamatan. Dalam Gereja, Sabda ini terus bergema, membentuk iman umat, dan mengutus Gereja untuk menghadirkan Kristus kepada dunia.

 

Sumber

De Carvalho, I. H. (2026, 11 Februari). Pope at Audience: the Word of God responds to our thirst for meaning and truth. Vatican News.

Link: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2026-02/pope-leo-xiv-general-audience-catechesis-word-of-god-dei-verbum.html

Mungkin Anda Tertarik
Pesan Hari Doa Panggilan Sedunia 2026: Menemukan Anugerah Allah di Kedalaman Hati
Artikel ini merangkum pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2026, yang menekankan bahwa panggilan adalah anugerah Allah yang ditemukan dalam keheningan dan relasi pribadi dengan Kristus. Paus mengajak umat, terutama kaum muda, untuk membuka diri lewat doa, Kitab Suci, dan kehidupan sakramental, serta meneladani Santo Yosef dalam mempercayakan diri pada Allah.
UNICEF Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah karena Anak-Anak Menanggung Dampak Terburuk
Artikel ini menyoroti seruan mendesak UNICEF untuk menghentikan perang di Timur Tengah yang menyebabkan penderitaan besar bagi lebih dari 1,2 juta anak yang mengungsi di Iran dan Lebanon. UNICEF memperingatkan bahwa ribuan anak telah menjadi korban tewas atau terluka, sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengeboman tanpa henti. Ted Chaiban, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, menegaskan bahwa anak-anak kini menanggung beban krisis paling berat, dengan rumah, sekolah, dan fasilitas penting hancur serta kebutuhan kemanusiaan yang jauh melampaui bantuan yang tersedia. UNICEF meminta gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan dukungan pendanaan mendesak agar generasi anak yang terdampak tidak kehilangan masa depan.
Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Damai, Bukan Perang dan Kehancuran
Dalam audiensi bersama ITA Airways dan Lufthansa Group, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas layanan profesional mereka dalam mendukung perjalanan apostolik Paus, sekaligus menegaskan bahwa pesawat seharusnya menjadi sarana perdamaian, bukan alat penghancur di medan perang. Paus menyoroti ironi bahwa teknologi penerbangan, yang seharusnya memajukan kemanusiaan, masih sering digunakan untuk serangan udara yang membawa ketakutan dan kehancuran. Ia menegaskan bahwa rute perjalanan Paus selalu dimaksudkan sebagai jembatan dialog dan persaudaraan, serta mengajak dunia untuk membangun “rute-rute damai di langit.”