Kembali
Uskup Erik Varden Merenungkan Makna “Pertolongan Allah”
Waktu Terbit 24 Februari 2026
Penulis Jihan Nenci Meilinda

Dalam rangka Retret Prapaskah 2026 yang berlangsung di Vatikan, Uskup Erik Varden menyampaikan refleksi ketiganya dalam rangkaian Latihan Rohani bagi Paus Leo XIV, para Kardinal yang tinggal di Roma, serta para kepala Dikasteri Kuria Roma. Refleksi ini berfokus pada tema “Pertolongan Allah” (God’s Help).

Mengawali renungannya, Uskup Varden mengutip Mary Ward, pendidik Kristiani abad ke-17, yang kerap menasihati para suster, “Lakukan yang terbaik, maka Allah akan menolong.” Bagi Uskup Varden, keyakinan bahwa Allah sungguh menolong manusia merupakan dasar iman Kitab Suci, yang membedakan Allah Abraham, Ishak, dan Yakub (Allah yang menjadi manusia dalam Yesus Kristus) dari gambaran Allah yang jauh dan tak terlibat dalam filsafat abstrak.

 

Pertolongan Allah sebagai “Tempat Tinggal”

Mengacu pada Mazmur 90, “Orang yang tinggal dalam lindungan Yang Mahatinggi,” Uskup Varden menjelaskan bahwa pertolongan Allah bukanlah sesuatu yang datang sesekali. Mengikuti pemikiran Santo Bernardus, ia menegaskan bahwa pertolongan Allah adalah “habitat rohani”, suatu realitas penopang tempat manusia hidup, bergerak, dan berada.

Pertolongan Allah, tegasnya, bukan seperti layanan darurat yang dipanggil hanya ketika bencana terjadi. Ia merupakan kehadiran yang terus-menerus, meskipun sering kali tidak terasa secara langsung.

 

Ketika Doa Seolah Tak Dijawab

Namun, Uskup Varden juga mengangkat pertanyaan eksistensial yang kerap dialami orang beriman: bagaimana ketika seseorang berseru kepada Allah, tetapi hanya mendengar gema suaranya sendiri?

Untuk menjawabnya, ia mengajak merenungkan sosok Ayub, yang digambarkannya sebagai figur Kitab Suci yang mengalami penderitaan mendalam. Kisah Ayub, menurutnya, dapat dibaca sebagai sebuah “simfoni” yang bergerak dari ratapan, menghadapi ancaman, hingga akhirnya berjumpa dengan rahmat Allah.

Ayub menolak penjelasan dangkal dan rasionalisasi teman-temannya. Ia tidak memandang Allah sebagai akuntan yang sekadar menghitung untung rugi hidup manusia. Dalam penderitaannya, Ayub justru berpegang teguh pada kehadiran Allah dan berseru dengan iman radikal, “Jika bukan Dia, siapa lagi?”

 

Iman Bukan Asuransi

Uskup Varden mengingatkan bahwa orang beriman kerap tanpa sadar memperlakukan agama sebagai polis asuransi, jaminan bahwa hidup akan selalu aman. Ketika penderitaan datang dan “tembok pengaman” runtuh, iman pun bisa terguncang.

Di titik inilah manusia dihadapkan pada pilihan, apakah relasinya dengan Allah hanya bersifat transaksi, ataukah berakar pada kedalaman iman sejati? Ia mempertanyakan apakah seseorang akan menyerah seperti istri Ayub yang berkata, “Kutukilah Allah dan matilah,” atau justru masuk lebih dalam ke dalam misteri iman.

 

Hidup dalam Kedalaman Rahmat

Menurut Uskup Varden, Allah sering kali meruntuhkan tembok-tembok yang disangka sebagai dunia itu sendiri, padahal justru membuat manusia sesak napas. Dari keruntuhan itu, Allah membuka kemungkinan lahirnya dunia baru.

Hidup dalam pertolongan Allah, sebagaimana diajarkan Santo Bernardus, bukan berarti mencari rasa aman semu, melainkan berani melewati ratapan dan ancaman demi sampai pada kehidupan yang dipenuhi rahmat pada tingkat yang lebih dalam.

Retret Prapaskah ini mengajak para pemimpin Gereja untuk tidak menghindari kerapuhan manusiawi, tetapi menghayatinya sebagai jalan menuju kepercayaan yang lebih matang kepada Allah yang setia menolong, bahkan ketika pertolongan itu hadir dalam keheningan.

 

Sumber:

Varden, E. (2026, 23 Februari). Lenten Retreat: Bishop Varden reflects on “God’s help”. Vatican News.
Link: https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2026-02/varden-lenten-retreat-pope-leo-gods-help-spiritual-exercises.html

Mungkin Anda Tertarik
Pesan Hari Doa Panggilan Sedunia 2026: Menemukan Anugerah Allah di Kedalaman Hati
Artikel ini merangkum pesan Paus Leo XIV untuk Hari Doa Panggilan Sedunia 2026, yang menekankan bahwa panggilan adalah anugerah Allah yang ditemukan dalam keheningan dan relasi pribadi dengan Kristus. Paus mengajak umat, terutama kaum muda, untuk membuka diri lewat doa, Kitab Suci, dan kehidupan sakramental, serta meneladani Santo Yosef dalam mempercayakan diri pada Allah.
UNICEF Serukan Penghentian Perang di Timur Tengah karena Anak-Anak Menanggung Dampak Terburuk
Artikel ini menyoroti seruan mendesak UNICEF untuk menghentikan perang di Timur Tengah yang menyebabkan penderitaan besar bagi lebih dari 1,2 juta anak yang mengungsi di Iran dan Lebanon. UNICEF memperingatkan bahwa ribuan anak telah menjadi korban tewas atau terluka, sementara jutaan lainnya terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat pengeboman tanpa henti. Ted Chaiban, Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, menegaskan bahwa anak-anak kini menanggung beban krisis paling berat, dengan rumah, sekolah, dan fasilitas penting hancur serta kebutuhan kemanusiaan yang jauh melampaui bantuan yang tersedia. UNICEF meminta gencatan senjata segera, perlindungan warga sipil, akses kemanusiaan tanpa hambatan, dan dukungan pendanaan mendesak agar generasi anak yang terdampak tidak kehilangan masa depan.
Paus Leo XIV: Pesawat Seharusnya Membawa Damai, Bukan Perang dan Kehancuran
Dalam audiensi bersama ITA Airways dan Lufthansa Group, Paus Leo XIV menyampaikan apresiasi atas layanan profesional mereka dalam mendukung perjalanan apostolik Paus, sekaligus menegaskan bahwa pesawat seharusnya menjadi sarana perdamaian, bukan alat penghancur di medan perang. Paus menyoroti ironi bahwa teknologi penerbangan, yang seharusnya memajukan kemanusiaan, masih sering digunakan untuk serangan udara yang membawa ketakutan dan kehancuran. Ia menegaskan bahwa rute perjalanan Paus selalu dimaksudkan sebagai jembatan dialog dan persaudaraan, serta mengajak dunia untuk membangun “rute-rute damai di langit.”