Dalam rangka Retret Prapaskah
2026 yang berlangsung di Vatikan, Uskup Erik Varden menyampaikan refleksi
ketiganya dalam rangkaian Latihan Rohani bagi Paus Leo XIV, para Kardinal yang
tinggal di Roma, serta para kepala Dikasteri Kuria Roma. Refleksi ini berfokus
pada tema “Pertolongan Allah” (God’s Help).
Mengawali renungannya, Uskup
Varden mengutip Mary Ward, pendidik Kristiani abad ke-17, yang kerap menasihati
para suster, “Lakukan yang terbaik, maka Allah akan menolong.” Bagi
Uskup Varden, keyakinan bahwa Allah sungguh menolong manusia merupakan dasar
iman Kitab Suci, yang membedakan Allah Abraham, Ishak, dan Yakub (Allah yang
menjadi manusia dalam Yesus Kristus) dari gambaran Allah yang jauh dan tak
terlibat dalam filsafat abstrak.
Pertolongan Allah sebagai
“Tempat Tinggal”
Mengacu pada Mazmur 90, “Orang
yang tinggal dalam lindungan Yang Mahatinggi,” Uskup Varden menjelaskan bahwa
pertolongan Allah bukanlah sesuatu yang datang sesekali. Mengikuti pemikiran
Santo Bernardus, ia menegaskan bahwa pertolongan Allah adalah “habitat rohani”,
suatu realitas penopang tempat manusia hidup, bergerak, dan berada.
Pertolongan Allah, tegasnya,
bukan seperti layanan darurat yang dipanggil hanya ketika bencana terjadi. Ia
merupakan kehadiran yang terus-menerus, meskipun sering kali tidak terasa
secara langsung.
Ketika Doa Seolah Tak Dijawab
Namun, Uskup Varden juga
mengangkat pertanyaan eksistensial yang kerap dialami orang beriman: bagaimana
ketika seseorang berseru kepada Allah, tetapi hanya mendengar gema suaranya
sendiri?
Untuk menjawabnya, ia mengajak
merenungkan sosok Ayub, yang digambarkannya sebagai figur Kitab Suci yang
mengalami penderitaan mendalam. Kisah Ayub, menurutnya, dapat dibaca sebagai
sebuah “simfoni” yang bergerak dari ratapan, menghadapi ancaman, hingga
akhirnya berjumpa dengan rahmat Allah.
Ayub menolak penjelasan dangkal
dan rasionalisasi teman-temannya. Ia tidak memandang Allah sebagai akuntan yang
sekadar menghitung untung rugi hidup manusia. Dalam penderitaannya, Ayub justru
berpegang teguh pada kehadiran Allah dan berseru dengan iman radikal, “Jika
bukan Dia, siapa lagi?”
Iman Bukan Asuransi
Uskup Varden mengingatkan bahwa
orang beriman kerap tanpa sadar memperlakukan agama sebagai polis asuransi, jaminan
bahwa hidup akan selalu aman. Ketika penderitaan datang dan “tembok pengaman”
runtuh, iman pun bisa terguncang.
Di titik inilah manusia
dihadapkan pada pilihan, apakah relasinya dengan Allah hanya bersifat
transaksi, ataukah berakar pada kedalaman iman sejati? Ia mempertanyakan apakah
seseorang akan menyerah seperti istri Ayub yang berkata, “Kutukilah Allah
dan matilah,” atau justru masuk lebih dalam ke dalam misteri iman.
Hidup dalam Kedalaman Rahmat
Menurut Uskup Varden, Allah
sering kali meruntuhkan tembok-tembok yang disangka sebagai dunia itu sendiri,
padahal justru membuat manusia sesak napas. Dari keruntuhan itu, Allah membuka
kemungkinan lahirnya dunia baru.
Hidup dalam pertolongan Allah,
sebagaimana diajarkan Santo Bernardus, bukan berarti mencari rasa aman semu,
melainkan berani melewati ratapan dan ancaman demi sampai pada kehidupan yang
dipenuhi rahmat pada tingkat yang lebih dalam.
Retret Prapaskah ini mengajak
para pemimpin Gereja untuk tidak menghindari kerapuhan manusiawi, tetapi
menghayatinya sebagai jalan menuju kepercayaan yang lebih matang kepada Allah
yang setia menolong, bahkan ketika pertolongan itu hadir dalam keheningan.
Sumber:
Varden, E. (2026, 23 Februari). Lenten Retreat: Bishop
Varden reflects on “God’s help”. Vatican News.
Link: https://www.vaticannews.va/en/vatican-city/news/2026-02/varden-lenten-retreat-pope-leo-gods-help-spiritual-exercises.html