Kardinal Pierbattista Pizzaballa
mengecam keras penggunaan nama Tuhan untuk membenarkan perang di Timur Tengah.
Dalam sebuah webinar internasional, ia menegaskan bahwa menyalahgunakan nama
Allah demi kepentingan konflik merupakan “dosa paling besar” yang dapat
dilakukan manusia saat ini.
Perang Bukan Alasan Religius
Kardinal Pizzaballa menegaskan
bahwa perang pada dasarnya bersifat politik dan didorong oleh kepentingan
material, bukan alasan religius. Ia mengkritik penggunaan bahasa keagamaan
untuk membenarkan kekerasan, termasuk ketika ayat Kitab Suci digunakan untuk
mendukung tindakan militer. Menurutnya, hal tersebut bukan mencerminkan
kehendak Tuhan, melainkan manipulasi manusia.
Kardinal menegaskan bahwa jika
Tuhan hadir dalam situasi perang, maka Ia berada di pihak mereka yang menderita,
seperti para korban, orang terluka, dan mereka yang tertindas, bukan pada pihak
yang menggunakan nama-Nya untuk kepentingan kekerasan.
Seruan Gereja untuk Perdamaian
Menanggapi seruan Paus Leo XIV
tentang gencatan senjata dan dialog, Kardinal Pizzaballa mengakui bahwa pesan
tersebut mungkin tidak langsung didengar. Namun, ia menekankan bahwa Gereja
harus terus menyuarakan kebenaran dan mengajak semua pihak untuk membangun masa
depan yang lebih damai.
Kardinal mengingatkan bahwa
segala sesuatu yang dibangun di atas kekerasan tidak akan bertahan lama,
melainkan hanya menghasilkan ketakutan, kebencian, dan penderitaan yang
berkepanjangan.
Peran Media dalam Konflik
Dalam kesempatan tersebut,
Kardinal juga menyoroti pentingnya peran media. Ia menilai bahwa komunikasi
dapat menjadi bagian dari konflik, baik untuk menyampaikan informasi maupun
untuk membenarkan perang. Oleh karena itu, para jurnalis memiliki tanggung jawab
besar untuk menyajikan informasi yang akurat dan membantu masyarakat memahami
situasi secara kritis.
Krisis Kemanusiaan di Gaza dan
Tepi Barat
Kardinal Pizzaballa juga
mengungkapkan keprihatinannya terhadap situasi kemanusiaan di Jalur Gaza dan West
Bank (Tepi Barat). Ia menyebutkan bahwa jutaan orang masih hidup dalam
kondisi yang sangat memprihatinkan, dengan banyak yang kehilangan tempat
tinggal, akses kesehatan terbatas, dan minimnya kebutuhan dasar.
Selain itu, situasi di Tepi Barat
terus memburuk dengan meningkatnya kekerasan dan pembatasan mobilitas bagi
warga Palestina. Kebijakan terbaru yang membatasi pengakuan akademik dan akses
ekonomi juga dinilai akan memperparah kondisi masyarakat, termasuk berdampak
pada pendidikan.
Seruan untuk Kebenaran dan
Kemanusiaan
Mengakhiri pernyataannya, Kardinal Pizzaballa mengajak semua pihak untuk tidak berhenti menyuarakan kebenaran di tengah konflik. Ia menegaskan bahwa iman seharusnya menjadi sumber perdamaian, bukan alat untuk membenarkan kekerasan.
Sumber: Bordoni, L. (2026,
17 Maret). Cardinal Pizzaballa: Abusing God’s name for war is the gravest
sin. Vatican News.