Kembali
Paus Leo XIV: Kita Sangat Berharga di Mata Allah
Waktu Terbit 19 Oktober 2026
Nama Penulis Centrum Penelitian IMAVI
Paus Leo XIV memimpin doa Angelus bersama umat beriman yang berkumpul di Lapangan Santo Petrus pada Minggu, 18 Januari 2026. Dalam renungannya, Paus mengajak umat untuk meluangkan waktu setiap hari guna berdoa dan berefleksi agar dapat berjumpa dengan Tuhan yang mengasihi mereka.
Mengacu pada Injil hari itu (Yoh. 1:29-34), Paus mengingatkan bagaimana Yohanes Pembaptis mengenali Yesus sebagai Anak Domba Allah, Sang Mesias dan Juruselamat. Yohanes dengan tegas mewartakan keilahian dan perutusan Yesus kepada bangsa Israel, lalu dengan rendah hati menyingkir setelah menyelesaikan tugasnya. Ia bersaksi (Yoh. 1:30), “Sesudah aku akan datang Dia yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.”
Paus menekankan bahwa Yohanes Pembaptis adalah sosok yang sangat dicintai orang banyak, bahkan ditakuti oleh para penguasa di Yerusalem. Dalam situasi tersebut, Yohanes sebenarnya bisa saja memanfaatkan popularitasnya. Namun, ia tidak tergoda oleh ketenaran dan kesuksesan. Sebaliknya, di hadapan Yesus, ia menyadari keterbatasannya dan memberi ruang bagi kebesaran Tuhan.
“Yohanes tahu bahwa ia diutus untuk mempersiapkan jalan bagi Tuhan. Ketika Tuhan datang, dengan sukacita dan kerendahan hati ia mengakui kehadiran Allah dan keluar dari sorotan,” ujar Paus.
Paus Leo XIV menegaskan bahwa kesaksian Yohanes sangat relevan bagi zaman sekarang. Ia menyoroti kecenderungan banyak orang yang mencari kebahagiaan melalui pengakuan, persetujuan sosial, dan popularitas. Namun, hal-hal tersebut sering kali justru melahirkan penderitaan, perpecahan, serta gaya hidup dan relasi yang rapuh dan mengecewakan.
Menurut Paus, kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam ilusi kesuksesan atau ketenaran yang sementara. “Sukacita dan martabat kita tidak didasarkan pada popularitas, melainkan pada kesadaran bahwa kita dicintai dan diinginkan oleh Bapa Surgawi,” tegasnya.
Paus juga menjelaskan bahwa kasih yang diajarkan Yesus adalah kasih Allah yang hadir di tengah manusia, bukan untuk memukau dengan hal-hal spektakuler, melainkan untuk berbagi dalam perjuangan hidup dan memikul beban manusia. Melalui kasih itu, Allah menyingkapkan siapa diri manusia sebenarnya dan betapa berharganya setiap pribadi di hadapan-Nya.
Sebelum menutup renungannya, Paus mengajak umat agar tidak teralihkan dari kehadiran Tuhan dan tidak menghabiskan waktu serta tenaga untuk mengejar penampilan luar semata. Ia mendorong umat untuk belajar dari Yohanes Pembaptis: tetap waspada, mencintai kesederhanaan, jujur dalam perkataan, hidup bersahaja, serta menumbuhkan kedalaman hati dan budi.
“Marilah kita mencukupkan diri dengan yang esensial dan menyediakan waktu setiap hari, jika memungkinkan, untuk berhenti sejenak dalam keheningan, berdoa, merenung, dan mendengarkan Tuhan, seperti ‘masuk ke padang gurun’ untuk berjumpa dan tinggal bersama-Nya,” pesan Paus.
Sebagai penutup, Paus Leo XIV memohon bantuan Bunda Maria, teladan kesederhanaan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati, agar umat Kristiani mampu mewujudkan ajakan tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Sumber: Vatican News. (2026, 18 Januari). Pope at Angelus: We are precious in God's eyes. Link: https://www.vaticannews.va/en/pope/news/2026-01/pope-at-angelus-18-january-2026.html