Kembali
Prosesi Minggu Palma di Yerusalem Dibatalkan karena Perang
Waktu Terbit 24 Maret 2026
Nama Penulis Centrum Penelitian IMAVI

Prosesi Minggu Palma yang biasanya berlangsung dari Bukit Zaitun menuju Kota Tua Yerusalem resmi dibatalkan tahun ini oleh Patriarkat Latin Yerusalem. Keputusan ini diambil karena situasi perang yang terus memburuk di Timur Tengah, demikian diumumkan oleh Kardinal Pierbattista Pizzaballa pada 23 Maret 2026.

 

Diganti dengan Doa Khusus bagi Kota Yerusalem

Dalam pernyataannya, Kardinal Pizzaballa menjelaskan bahwa prosesi tradisional tersebut akan digantikan dengan momen doa untuk kota Yerusalem di lokasi yang masih sedang dipertimbangkan.
Kardinal juga mengumumkan bahwa Misa Krisma yang biasanya dirayakan pada Kamis Putih di Basilika Makam Kudus, terpaksa ditunda hingga situasi keamanan memungkinkan, kemungkinan masih dalam masa Paskah.

 

Tidak Ada Perayaan Publik seperti Biasa

“Pembatasan dan situasi yang tidak menentu membuat perayaan besar yang terbuka untuk umum tidak mungkin dilakukan,” tegas Kardinal. Beliau menambahkan bahwa Patriarkat harus menentukan jadwal dan bentuk perayaan Pekan Suci hari demi hari, tergantung perkembangan keamanan di wilayah tersebut.

Meski demikian, gereja-gereja tetap dibuka, dan para Imam Paroki diimbau untuk terus memfasilitasi doa serta keterlibatan umat dalam perayaan Paskah, sejauh memungkinkan.

 

Luka Baru akibat Konflik

Kardinal Pizzaballa menyatakan bahwa kondisi perang telah membuat umat tidak dapat menjalani masa Prapaskah secara bersama seperti biasanya di Yerusalem. Ketidakmampuan untuk merayakan Paskah secara utuh disebutnya sebagai “luka baru” yang menambah penderitaan akibat konflik yang sedang berlangsung. Namun Kardinal Pizzaballa menegaskan pentingnya tidak menyerah pada keputusasaan, “Kita mungkin tidak dapat berkumpul seperti yang kita inginkan, tetapi jangan pernah meninggalkan doa.”

 

Ajakan Berdoa Bersama pada 28 Maret

Kardinal mengajak seluruh umat beriman untuk bersatu dalam Doa Rosario pada Sabtu, 28 Maret, sebagai permohonan damai dan ketenangan, terutama bagi mereka yang paling terdampak perang.
Beliau mengutip Injil Lukas 18:1, “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu.”

Menurutnya, meski terpisah secara fisik, doa yang dinaikkan bersama akan tetap menjadi sumber pengharapan dan kekuatan bagi umat.

 

Tidak Ada Kegelapan yang Mengalahkan Kebangkitan

Menjelang Jumat Agung, Kardinal kembali menegaskan bahwa misteri Paskah adalah jaminan bahwa tidak ada kegelapan, bahkan perang sekalipun, yang dapat memiliki kata terakhir.

“Makam kosong menjadi tanda kemenangan kehidupan atas kebencian. Biarlah cahaya ini menuntun langkah kita,” katanya.

 

Doa Tak Putus di Tempat-tempat Suci

Terlepas dari pembatasan keamanan, Kustodi Tanah Suci menyampaikan bahwa para Frater Fransiskan tetap melaksanakan doa, prosesi harian, dan ritus liturgi di Makam Kudus tanpa henti, siang dan malam. Doa ini dipersembahkan bagi seluruh Gereja dan seluruh umat manusia, terutama dalam masa krisis seperti sekarang.

 

Sumber: Guarrera, B. (2026, 23 Maret). Palm Sunday procession in Jerusalem cancelled due to war. Vatican News.

Link: https://www.vaticannews.va/en/church/news/2026-03/jerusalem-holy-week-conflict-peace-prayer-cardinal-pizzaballa.html