Kembali
Seruan Damai dari Lebanon: “Allah Tidak Pernah Mengizinkan Pembunuhan”
Waktu Terbit 17 Maret 2026
Nama Penulis Centrum Penelitian IMAVI

Seorang biarawan Fransiskan dari Lebanon, Tony Choukri, menyampaikan kesaksian mendalam tentang kehidupan di tengah perang serta menyerukan pentingnya perdamaian. Dalam wawancaranya dengan Vatican News, beliau menegaskan bahwa kekerasan tidak pernah dapat dibenarkan karena “Allah tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk membunuh.”

 

Kehidupan di Tengah Ancaman Perang

Bruder Tony Choukri, yang merupakan penjaga Biara Fransiskan Santo Yosef di kawasan Gemmayzeh, Beirut, menggambarkan situasi yang semakin mencekam akibat pemboman yang terus terjadi. Menurutnya, serangan tersebut tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi juga menciptakan suasana kebencian dan balas dendam yang bertentangan dengan kehidupan masyarakat Lebanon yang selama ini hidup berdampingan dalam keberagaman.

Beliau menekankan bahwa Lebanon sejatinya adalah satu kesatuan yang utuh, di mana umat Kristiani dan Muslim hidup bersama dalam harmoni. Namun, konflik yang terjadi saat ini justru merusak jalinan persaudaraan tersebut dan menghadirkan ketakutan yang meluas di tengah masyarakat.

 

Biara sebagai Tempat Perlindungan

Di tengah situasi yang tidak menentu, Biara Santo Yosef tetap menjadi tempat perlindungan bagi banyak orang. Selain menyimpan kenangan akan ledakan besar di pelabuhan Beirut tahun 2020 dan konflik yang telah berlangsung sejak lama, biara ini juga menjadi simbol kehadiran Gereja yang setia mendampingi umatnya.

Meskipun berada di pusat kota tanpa perlindungan khusus, para biarawan tetap bertahan dan tidak meninggalkan tempat tersebut. Saat ini, sekitar 150 orang pengungsi ditampung di biara, termasuk mereka yang melarikan diri dari wilayah selatan Lebanon. Biara ini juga terus berupaya mencari tempat yang lebih aman, terutama bagi anak-anak dan lansia yang sangat rentan terhadap dampak perang.

 

Ketakutan yang Menyelimuti Masyarakat

Bruder Choukri menggambarkan bahwa tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman di Lebanon. Serangan yang awalnya terkonsentrasi di wilayah selatan kini telah meluas hingga ke Beirut. Ketidakpastian ini membuat masyarakat hidup dalam ketakutan, karena situasi dapat berubah secara tiba-tiba.

Beliau menceritakan bahwa bahkan saat persiapan perayaan Santo Yosef, sebuah ledakan terjadi hanya beberapa ratus meter dari biara, mengguncang bangunan dan menambah rasa cemas bagi mereka yang berlindung di sana. Anak-anak pun menunjukkan trauma dengan segera bersembunyi setiap kali mendengar suara keras yang menyerupai tembakan.

 

Seruan Kemanusiaan dan Perdamaian

Dalam kesaksiannya, Bruder Choukri menegaskan bahwa penderitaan yang dialami masyarakat harus segera dihentikan. Ia mengingatkan bahwa kehidupan manusia memiliki martabat yang tidak boleh diperlakukan sebagai alat untuk kepentingan politik, strategi, atau perubahan wilayah.

Beliau menyerukan agar semua pihak kembali menghormati hukum, hak asasi manusia, dan nilai-nilai iman. Menurutnya, kematian tidak pernah dapat menjadi jalan untuk mencapai tujuan apa pun.

Di tengah situasi yang penuh penderitaan, para biarawan tetap memilih untuk tinggal bersama masyarakat yang merasa terpinggirkan dan tertindas. Kehadiran mereka menjadi tanda harapan bahwa di tengah kegelapan perang, masih ada kasih, solidaritas, dan iman yang terus bertahan.

 

Sumber: Sabatinelli, F. (2026, 16 Maret). Franciscan Brother in Lebanon: God does not give permission to kill. Vatican News.

Link: https://www.vaticannews.va/en/church/news/2026-03/lebanon-brother-choukri-peace-war-bombings-beirut-monastery.html