Seorang biarawan Fransiskan dari
Lebanon, Tony Choukri, menyampaikan kesaksian mendalam tentang kehidupan di
tengah perang serta menyerukan pentingnya perdamaian. Dalam wawancaranya dengan
Vatican News, beliau menegaskan bahwa kekerasan tidak pernah dapat
dibenarkan karena “Allah tidak memberikan izin kepada siapa pun untuk
membunuh.”
Kehidupan di Tengah Ancaman
Perang
Bruder Tony Choukri, yang
merupakan penjaga Biara Fransiskan Santo Yosef di kawasan Gemmayzeh, Beirut,
menggambarkan situasi yang semakin mencekam akibat pemboman yang terus terjadi.
Menurutnya, serangan tersebut tidak hanya menghancurkan bangunan fisik, tetapi
juga menciptakan suasana kebencian dan balas dendam yang bertentangan dengan
kehidupan masyarakat Lebanon yang selama ini hidup berdampingan dalam
keberagaman.
Beliau menekankan bahwa Lebanon
sejatinya adalah satu kesatuan yang utuh, di mana umat Kristiani dan Muslim
hidup bersama dalam harmoni. Namun, konflik yang terjadi saat ini justru
merusak jalinan persaudaraan tersebut dan menghadirkan ketakutan yang meluas di
tengah masyarakat.
Biara sebagai Tempat
Perlindungan
Di tengah situasi yang tidak
menentu, Biara Santo Yosef tetap menjadi tempat perlindungan bagi banyak orang.
Selain menyimpan kenangan akan ledakan besar di pelabuhan Beirut tahun 2020 dan
konflik yang telah berlangsung sejak lama, biara ini juga menjadi simbol
kehadiran Gereja yang setia mendampingi umatnya.
Meskipun berada di pusat kota
tanpa perlindungan khusus, para biarawan tetap bertahan dan tidak meninggalkan
tempat tersebut. Saat ini, sekitar 150 orang pengungsi ditampung di biara,
termasuk mereka yang melarikan diri dari wilayah selatan Lebanon. Biara ini
juga terus berupaya mencari tempat yang lebih aman, terutama bagi anak-anak dan
lansia yang sangat rentan terhadap dampak perang.
Ketakutan yang Menyelimuti
Masyarakat
Bruder Choukri menggambarkan
bahwa tidak ada lagi tempat yang benar-benar aman di Lebanon. Serangan yang
awalnya terkonsentrasi di wilayah selatan kini telah meluas hingga ke Beirut.
Ketidakpastian ini membuat masyarakat hidup dalam ketakutan, karena situasi dapat
berubah secara tiba-tiba.
Beliau menceritakan bahwa bahkan
saat persiapan perayaan Santo Yosef, sebuah ledakan terjadi hanya beberapa
ratus meter dari biara, mengguncang bangunan dan menambah rasa cemas bagi
mereka yang berlindung di sana. Anak-anak pun menunjukkan trauma dengan segera
bersembunyi setiap kali mendengar suara keras yang menyerupai tembakan.
Seruan Kemanusiaan dan
Perdamaian
Dalam kesaksiannya, Bruder
Choukri menegaskan bahwa penderitaan yang dialami masyarakat harus segera
dihentikan. Ia mengingatkan bahwa kehidupan manusia memiliki martabat yang
tidak boleh diperlakukan sebagai alat untuk kepentingan politik, strategi, atau
perubahan wilayah.
Beliau menyerukan agar semua
pihak kembali menghormati hukum, hak asasi manusia, dan nilai-nilai iman.
Menurutnya, kematian tidak pernah dapat menjadi jalan untuk mencapai tujuan apa
pun.
Di tengah situasi yang penuh
penderitaan, para biarawan tetap memilih untuk tinggal bersama masyarakat yang
merasa terpinggirkan dan tertindas. Kehadiran mereka menjadi tanda harapan
bahwa di tengah kegelapan perang, masih ada kasih, solidaritas, dan iman yang
terus bertahan.
Sumber: Sabatinelli, F.
(2026, 16 Maret). Franciscan Brother in Lebanon: God does not give
permission to kill. Vatican News.